Sabtu, 07 Mei 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)




PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)














Drs. Soebakri, M.Pd.











Makalah
Disampaikan dalam Diklat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
bagi Himpunan Penulis Sain Indonesia (HIPSI)
di Gedung Wanita Chandra Kencana Surabaya
pada tanggal 24 Mei 2009

































Pengantar
Salah satu masalah klasik namun sangat krusial yang dihadapi oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah adalah masih sulitnya mereka menerapkan produk-produk penelitian dan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang direkomendasikan oleh pemerintah. Akibatnya hingga saat ini seringkali kinerja guru masih saja dipersoalkan oleh berbagai pihak.
Beberapa faktor pemicu munculnya masalah di atas antara lain disebabkan oleh (1) produk-produk inovasi pembelajaran dan hasil penelitian yang ditawarkan kepada guru sering kali tidak melibatkan guru dalam pembentukan pengetahuan (knowledge construction) sehingga ada kecenderungan produk-produk inovasi seringkali di luar jangkauan guru; dan (2) penyebarluasan (dessimination) inovasi pembelajaran dan hasil penelitian kepada kalangan praktisi pendidikan (guru) sering memerlukan jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola atau model desiminasi yang dikembangkan selama ini, baik melalui seminar, penataran, maupun publikasi ilmiah akibat dari kurang termonitor dan kurang terencananya tindak lanjut selepas dari penataran atau seminar dan kurang jelasnya sasaran dan materi pembinaan (Tilaar, dkk, 1992).
Desiminasi hasil penelitian dan inovasi-inovasi baru pendidikan melalui publikasi ilmiah sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, selain itu ditunjang oleh ‘budaya’ guru untuk membaca dan mencoba hasil penelitian dan inovasi yang didapat dari publikasi llmiah masih sangat rendah. Hal ini membuat ‘wajah’ pendidikan kita tidak banyak berubah mulai dari jaman kolonial sampai jaman global.
Namun demikian bukan berarti bahwa kualitas kompetensi professional guru tidak dapat ditingkatkan atau persoalan-persoalan yang dihadapi guru tidak dapat dipecahkan. Upaya pertama paling bijaksana untuk mengatasi hal ini adalah berusaha memotong jalur desiminasi yang berliku serta membekali dan membudayakan guru cara memecahkan masalah secara mandiri sekaligus dapat meningkatkan mutu pembelajarannya ; dan kedua menumbuhkan rasa butuh (need oriented) pada guru untuk mampu menafsirkan dan menerapkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pembelajaran. Sehingga dengan demikian penafsiran dan penerapan hasil-hasil penelitian bukanlah menjadi beban ekstra bagi seorang guru, melainkan sudah merupakan suatu kebutuhan mendasar yang melekat dan harus dipenuhi oleh guru.
Salah satu upaya strategis yang dilakukan guna mengatasi permasalahan di atas adalah menggeser paradigma pendidikan dari bersifat tumbuh dari atas (top down) menuju tumbuh dari bawah (bottom up) yang bersifat konstruktivis, realistik pragmatis. Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi logis bahwa guru tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pembaharuan, namun guru juga turut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya, khususnya dalam pengelolaan pembelajaranya di dalam kelas. Salah satunya adalah pembekalan ketrampilan penelitian tindakan kelas (classroom action research).
Upaya ini akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran (learning problem) akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi (content quality), masukan, proses, sarana dan prasarana, dan hasil belajar, dan ketiga¸ peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan dan kualitas luaran.
Melalui penelitian tindakan kelas, masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan secara konstruktivis oleh guru, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara sistematis.
Penelitian  tindakan  kelas  sebenarnya  merupakan  ajang  bagi  guru  untuk berpikir  kreatif  guna  memecahkan  masalah  di  kelasnya.  Kreatifitas  dalam membelajarkan siswa, itulah hakikat dari tindakan yang dilakukan guru dalam proses  pembelajaran  di  kelas.  Tindakan  yang  dirancang  guru  kebanyakan berdasarkan  atas  sebuah  teori  yang  diambil  dari  buku  tertentu.  Namun sebenarnya  apabila  tindakan  tersebut  dikembangkan  dan  disempurnakan maka  lama  kelamaan  akan  menjadi  sebuah  tindakan  yang  berbeda  dari wujud  awalnya.  Inilah  hasil  kreatifitas  itu,  yang  mana  kreativitas  biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu  tidak  perlu  seluruh  produknya  harus  baru,  mungkin  saja  gabungannya atau   kombinasinya,   sedangkan   unsur-unsurnya   sudah   ada   sebelumnya. Demikian  juga  dalam  Inovasi  Pembelajaran,  tidak  seluruhnya  harus  baru, namun  harus  ada  bukti  bahwa  hasil  inovasi  tersebut  memiliki  kelebihan dengan model sebelumnya. Jadi disini dibutuhkan kreativitas guru, dalam hal ini kreatifitas guru adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas dapat pula kita lihat sebagai suatu proses  dan  hal  ini  mungkin  akan  lebih  esensial.  Dengan  demikian  proses tindakan dalam penelitian tindakan kelas bisa menjadi hasil inovasi baru yang berupa sebuah model proses pembelajaran, yang memiliki ciri khas tertentu yang   berbeda   dengan model pembelajaran sebelumnya serta memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang  belum di miliki   model   pembelajaran sebelumnya.

Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan top down (dari atas). Hal ini karena pendekatan inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan permasalahan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam kelas.
Selanjutnya apa, mengapa dan bagaimana “penelitian tindakan kelas” yang dimaksud dengan “penelitian tindakan kelas” dapat kita cermati dalam uraian singkat di bawah ini.

Pengertian
Konsep penelitian tindakan (action research) bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.
Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK). Beberapa definisi PTK yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain (1) Tim proyek PGSM (1999) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan, (2) Mukhlis, Abdul dan Nur, Mohamad (2001) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis dan siklustis, (3) Kemis, Stephen dalam D. Hopkins (1992) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah ‘action research is a form of self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation inorder to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational pratices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out’ (penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, (c) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan). (4) Mills (2003) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Any systematic inquiry conducted by teacher researchers ... to gather information about how their particular schools operate, how they teach, and how well their students learn’. (5) Rapoport (1991) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Action research aims to contribute both to the practical concerns of people in an immediate problematic situation and to the goals of social science (including education) by joint collaboration within a mutually acceptable ethical framework.
Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka diperoleh batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai.

Karakteristik

Beberapa   pakar   mengemukakan   karakteristik   penelitian   tindakan   kelas sebagai  berikut  :  (1)  didasarkan  atas  masalah  yang  dihadapi  guru  dalam pembelajaran;  (2)  dilakukan  secara  kolaboratif  melalui  kerja  sama  dengan pihak lain; (3) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran; dan (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah yang terdiri dari beberapa siklus; (6)  yang  diteliti  adalah  tindakan  yang  dilakukan,  meliputi  efektifitas  metode, teknik, atau proses pembelajaran (termasuk perencanaan, pelaksanaan dan penilaian); (7) tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik. 

Pakar  yang  lain (Winter:  1996),   menyebutkan  ada  enam  karakteristik  penelitian  tindakan kelas  yaitu  :  (1)  kritik  refleksi,  yaitu  adanya  refleksi  yang bersifat evaluasi pelaksanaan pembelajaran; (2) kritik dialektis, yaitu adanya pandangan  kritis  dan  obyektif  terhadap  kelemahan  atau  hambatan  dalam pelaksanaan; (3) kolaboratif, yaitu adanya kerjasama dengan pihak lain untuk mengamati atau sumber data atas masalah yang dihadapi dalam pembelajaran;  (4)  resiko,  berarti  peneliti  atau  guru  sendiri  harus  berani mengambil resiko bahwa hipotesisnya meleset atau beresiko untuk melakukan  perubahan  yang  bersifat  perbaikan;  (5)  susunan  jamak,  yaitu bersifat reflektif, dialektis, partisipatif dan kolaboratif; dan (6) intenalisasi teori dan praktik, artinya teori dan praktik bukanlah hal yang terpisah, tetapi hanya merupakan satu hal yang memiliki tahapan berbeda, yang saling bergantung satu sama lain, dengan demikian pengembangan teori akan berakibat pada praktik demikian juga pengembangan praktik yang berdampak pada teori.

Berdasar uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka dapat dicermati bahwa karakteristik penelitian tindakan kelas, berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan; an inquiry on pratice from within
Karakteristik pertama dari penelitian tindakan kelas bahwa kegiatan tersebut dimulai oleh permasalahan praktis yang dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai pengelola program pembelajaran di dalam kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di sekolah. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praksis secara langsung ‘disini’, ‘sekarang’ sehingga seringkali istilah penelitian tindakan kelas dipertukarkan dengan istilah penelitian praktis.
Penelitian tindakan kelas menitikberatkan pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual, hal ini membawa konsekuensi penelitian tindakan kelas tidak terlalu menghiraukan kerepresentativan sampel seperti pada penelitian formal karena memang tujuan penelitian tindakan kelas bukan untuk menemukan, mengembangkan atau merevisi sebuah teori yang dapat digeneralisasikan secara luas, penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk memperbaiki (improvement) permasalahan praktis dalam pembelajaran ‘disini’ dan ‘sekarang’.
Penelitian tindakan kelas juga berbeda dengan penelitian formal dalam hal metodologi, metodologi penelitian tindakan kelas tidak kaku seperti penelitian formal, dalam arti tidak terlalu memperhatikan kontrol terhadap perlakuan. Namun demikian sebagai kajian yang taat kaidah pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas. Pengungkapan kebenaran dilakukan secara cermat dan objektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh sejawat.
Dengan kata lain, sebagaimana halnya dengan penelitian formal, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengemukakan kebenaran, meskipun jangkauanya lebih terbatas (tidak bisa digeneralisasikan ke populasi).
Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas bepijak pada dua landasan yaitu involvment, keterlibatan langsung guru dalam pelaksanaan penelitian dan improvement, komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perbaikan dalam cara berpikir dan kinerjanya sendiri, kerena itu penelitian tindakan kelas dapat menjadi self reflective inquiry bagi guru, dalam situasi nyata di dalam kelas.
Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi harus berkolaborasi dengan sejawatnya. Penelitian tindakan kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Nuansa kolaborasi ini harus tertampilkan dalam keseluruhan proses mulai dari identifikasi masaah bersama, perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas, observasi dan evaluasi, dan refleksi, sampai dengan penyusunan laporan akhir penelitian.
Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan untuk perbaikan (improvement) praktis. Berbeda dengan penelitian formal yang lebih mengutamakan pendekatan eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan kepada proses ‘perenungan kembali’ (refleksi) terhadap proses dan hasil penelitian secara berkelanjutan untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang efektifan, dan sebagainya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat digunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus-siklus selanjutnya.
Every day Pratical Problems , penelitian tindakan kelas lebih memfokuskan permasalahan nyata di dalam kelas yang dihadapi guru sehari-hari, bukan berangkat dari permasalahan yang bersifat teoritis (teoritical problems). Oleh sebab itu penentuan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus berawal dari permasalahan nyata di dalam kelas, yang kemudian didiagnosis akar masalahnya dari permasalahan tersebut sebelum bisa menentukan langkah-langkah tindakan yang paling tepat.
Teori menuju aksi, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk mengadopsi teori kedalam tindakan nyata untuk merubah situasi yang sulit kedalam permasalahan praktis yang bisa dipecahkan.

Prinsip-Prinsip
Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas. Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara sikluistis sampai terjadinya peningkatan, perbaikan, atau ‘kesembuhan’ sistem, proses, hasil, dan sebagainya.
Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.
Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas, reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasil tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan kelas agar tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.
Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan terjadi secara akademik.
Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.
Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Beberapa pakar lain, ada yang menyebutkan bahwa penelitian  tindakan  kelas memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Situasi biasa. Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi yang biasa terjadi, karena kalau penelitian dilakukan dalam situasi yang   berbeda   dari   biasanya,   maka   hasilnya   mungkin   berbeda   jika dilaksanakan   lagi   dalam   situasi   aslinya.   Oleh   karena   itu   penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus untuk diamati, jadi harus dibiarkan apa adanya namun yang berbeda adalah adanya tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran; (2) Kegiatan nyata/empirik. Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti dalam kaitannya  dengan  tugasnya  sebagai  guru  atau  kepala  sekolah.  Jadi  tindakan yang dilakukan merupakan tindakan nyata yang dilakukan dalam tugasnya sehari-hari dan secara empirik memang terjadi di lapangan; (3) Peningkatan mutu atau pemecahan masalah. Penelitian tindakan merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan mutu sesuatu yang sudah ada  dan  biasa  menjadi  lebih  baik  lagi  atau  merupakan  sebuah  upaya untuk memecahkan masalah yang terjadi di kelas atau di sekolahnya; (4) Sukarela. Penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada paksaan atau permintaan dari pihak lain, tetapi atas dasar sukarela, karena mengharapkan hasil yang lebih baik; (5) Sistemik.  Berarti  penelitian  harus  dilakukan  secara  terencana,  terarah, dan  teratur  berdasarkan  sebuah  mekanisme  tertentu.  Jadi,  jika  guru mengupayakan  cara  mengajar  yang  baru,  maka  harus  juga  memikirkan tentang langkah-langkahnya, bahan ajarnya, sarana pendukung dan hal- hal  yang  terkait  dengan  cara  baru  tersebut.  Jika  kepala  sekolah  akan melakukan   upaya   manajemen   yang   baru   maka   harus   dipersiapkan prosedurnya, kebijakan pendukungnya serta sosialisasi implementasinya; (6) Tindakan berbeda. Penelitian tindakan harus dapat menunjukkan bahwa tindakan  yang  diberikan  kepada  siswa  memang  berbeda  dari  apa  yang sudah biasa dilakukan. karena yang biasa sudah jelas menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh karena itu guru melakukan tindakan yang diperkirakan dapat memberikan hasil  yang lebih baik; dan (7) Terpusat  pada proses, bukan semata-mata hasil.  Penelitian  tindakan merupakan   kegiatan   yang   dilakukan   oleh   guru   atau   peneliti   untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil , dengan mengubah cara, metode, pendekatan  atau  strategi  yang  berbeda  dari  biasanya. Cara, metode, pendekatan atau strategi  tersebut  berupa  proses  yang  harus  diamati secara cermat, dilihat ke lancarannya, kesesuaian dengan dan penyimpangannya dari rencana, kesulitan atau hambatan yang dijumpai, dan lain-lain aspek yang berkaitan  dengan proses. Jadi dalam penelitian tindakan harus ada indikator proses dan indikator keberhasilan. Terdapat   kesalahan   yang   umum   terjadi   pada   penelitian   tindakan   kelas adalah   penonjolan   tindakan   yang   dilakukan   oleh   guru,   misalnya   guru memberikan tes kepada siswa, guru memberikan tugas proyek kepada siswa atau yang sejenisnya. Pernyataan seperti itu kurang tepat, karena seharusnya yang ditonjolkan adalah kegiatan siswa, misalnya  siswa mengamati proses tumbuhnya kecambah, siswa membandingkan dan mencatat  hasilnya. Jadi  guru  harus  melaporkan  berlangsungnya  proses belajar yang dialami oleh siswa, perilakunya, perhatian mereka pada proses yang terjadi, dan sebagainya.

Jadi, secara umum prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas, adalah: (1) tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar; (2) metode pengumpulan data tidak menuntut waktu yang berlebihan; (3) metodologi yang digunakan harus reliabel sehingga memungkinkan guru  mengidentifikasi  serta  merumuskan  hipotesis  secara meyakinkan; (4) masalah berawal dari kondisi nyata di kelas yang dihadapi guru; (5) dalam penyelenggaraan penelitian, guru harus memperhatikan etika profesionalitas  guru;  (6)  meskipun  yang  dilakukan  adalah  di  kelas,  tetapi harus dilihat dalam konteks sekolah secara menyeluruh; (7) tidak mengenal populasi dan sampel; (8) tidak mengenal kelompok eksperimen dan control; dan (9) tidak untuk digeneralisasikan.


Tujuan
Apakah tujuan kita melakukan penelitian tindakan kelas? Sebagaimana sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan tesebut adalah penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan (improvement) atau peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan/berkesinambungan. Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program pada umumnya
Jika tujuan utama penelitian tindakan kelas, untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah ‘bagaimana tujuan tersebut itu dapat tercapai?’ Tujuan itu dapat tercapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan, kemudian mencobakan berbagai tindakan alternatif secara sistematis guna memecahkan permasalahan tersebut, dengan kata lain, dilakukan perencanaan tindakan alternatif oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi efektivitasnya dalam memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru. Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud akibat adanya PTK, dampak penyerta yang dapat dicapai sekaligus oleh kegiatan penelitian ini adalah tumbuhnya budaya dan produktivitas meneliti di kalangan praktisi pendidikan (guru).

Manfaat
Akibat logis dari uraian tujuan di atas maka banyak manfaat yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) guru semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolusi inovasi’ dalam pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana di lapangan. (2) guru memiliki keberanian mencobakan hal-hal baru yang diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajaranya di dalam kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam memecahkan permasalahan pembelajaranya di dalam kelas. (3) Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complacent), melainkan terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara berkesinambingan (continue).

Jenis dan Model

  1. Jenis
 Terdapat empat jenis Penelitian Tindakan Kelas, yaitu :

1.       Jenis Diagnostik
Penelitian  dilakukan  untuk  menuntun  peneliti  ke  arah  suatu  tindakan karena suatu masalah yang terjadi, misalnya adanya konflik antar siswa di kelas, adanya pertengkaran di antara siswa dan sejenisnya.

2.       Jenis Partisipan
Penelitian   dilakukan   dengan   keterlibatan   langsung   peneliti   dari   awal sampai akhir proses.


3.       Jenis Empirik
Penelitian dilakukan dengan cara merencanakan, mencatat pelaksanaan dan mengevaluasi pelaksanaan         dari luar           arena kelas, jadi            dalam penelitian  jenis   ini   peneliti   harus   berkolaborasi   dengan guru yang melaksanakan tindakan di kelas.

4.       Jenis Eksperimental.
Penelitian dilakukan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik, metode atau strategi dalam pembelajaran secara efektif dan efisien.

  1. Model /Desain

Ada  beberapa  ahli  yang  mengemukakan  model/desain  penelitian  tindakan  kelas seperti  dinyatakan  sebelumnya,  namun  secara  garis  besar  terdapat  empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan,   dan   (4)   refleksi.   Namun   perlu   diketahui   bahwa   tahapan pelaksanaan  dan  pengamatan  sesungguhnya  dilakukan  secara  bersamaan.   
  
  
Tahap 1: Perencanaan tindakan

Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut  dilakukan. Penelitian tindakan yang  ideal  sebetulnya  dilakukan  secara  berpasangan  antara  pihak  yang melakukan  tindakan  dan  pihak  yang  mengamati  proses  jalannya  tindakan (apabila  dilaksanakan  secara  kolaboratif).  Cara  ini  dikatakan  ideal  karena adanya  upaya  untuk  mengurangi  unsur  subjektivitas  pengamat  serta  mutu kecermatan  amatan  yang  dilakukan.  Bila  dilaksanakan  sendiri  oleh  guru sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan  lapangan.  Yang  perlu  diingat  bahwa  pengamatan  yang  diarahkan pada  diri  sendiri  biasanya  kurang  teliti  dibanding  dengan  pengamatan  yang dilakukan  terhadap  hal-hal  yang  berada  di  luar  diri,  karena  adanya  unsur subjektivitas  yang  berpengaruh,  yaitu  cenderung  mengunggulkan  dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan

Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau  penerapan  isi  rencana  tindakan  di  kelas  yang  diteliti.  Hal  yang  perlu diingat  adalah  bahwa  dalam  tahap  2  ini  pelaksana  guru  harus  ingat  dan berusaha  mentaati  apa  yang  sudah  dirumuskan  dalam  rencana  tindakan, tetapi  harus  pula  berlaku  wajar,  tidak  kaku  dan  tidak  dibuat-buat.  Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan.

Tahap 3: Pengamatan terhadap tindakan

Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh  orang  lain  maupun  guru  sendiri).  Seperti  telah  dijelaskan  sebelumnya bahwa kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena  pengamatan  dilakukan  pada  waktu  tindakan  sedang  dilakukan.  Jadi keduanya  berlangsung  dalam  waktu  yang  sama.  Sebutan  tahap  2  dan  3 dimaksudkan   untuk   memberikan   peluang   kepada   guru   pelaksana   yang berstatus  juga  sebagai  pengamat,  yang  mana  ketika  guru  tersebut  sedang melakukan  tindakan  tentu  tidak  sempat  menganalisis peristiwanya ketika sedang  terjadi.  Oleh  karena  itu  kepada  guru  pelaksana  yang  berstatus sebagai  pengamat  ini  untuk  melakukan  "pengamatan  balik"  terhadap  apa yang  terjadi  ketika  tindakan  berlangsung.  Sambil  melakukan  pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.

Tahap 4: Refleksi terhadap tindakan

Tahap ke-4 ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah  dilakukan.  Istilah  "refleksi"  dari  kata  bahasa  Inggris  reflection,  yang diterjemahkan  dalam  bahasa  Indonesia  pemantulan.  Kegiatan  refleksi  ini sebetulnya   lebih   tepat   dikenakan   ketika   guru   pelaksana   sudah   selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti     untuk mendiskusikan  implementasi  rancangan  tindakan.  Inilah  inti  dari  penelitian tindakan,  yaitu  ketika  guru  pelaku  tindakan  mengatakan  kepada  peneliti pengamat  tentang  hal-hal  yang  dirasakan  sudah  berjalan  baik  dan  bagian mana yang belum. Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah  dirasakan  memuaskan  hati  karena  sudah  sesuai  dengan  rancangan dan  mengenali  hal-hal  yang  masih  perlu  diperbaiki.  Dalam  hal  seperti  ini maka  guru  melakukan  ”self  evaluation”  yang  diharapkan  dilakukan  secara obyektif.  Untuk  menjaga  obyektifitas  tersebut  seringkali  hasil  refleksi  ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain, misalnya guru/teman sejawat yang  diminta  mengamati,  ketua  jurusan,  kepala  sekolah  atau  nara  sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya.

Keempat   tahap   dalam   penelitian   tindakan   tersebut   adalah   unsur   untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan  refleksi,  yang  tidak  lain  adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan"  sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang  dimaksud  dengan  bentuk  tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan  kegiatan  tunggal  tetapi  selalu  berupa  rangkaian  kegiatan  yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus.


Instrumen  
Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students).
(1)     Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teachers)
Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen observasi adalah observasi anekdotal (anecdotal record).
Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara obyektif.
Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events), b) Observasi Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form), c) Observasi Anekdotal Pola Pengelompokkan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns), d) Observasi Terstruktur (structured observation), e) Lembar Observasi Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model), f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions), g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) , h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

(2)     Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)
Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.
Beberapa model pengamatan anekdotal kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization), b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map), c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms), d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment), e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews), f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

(3)     Pengamatan Perilaku Siswa (Observing Students).
Observasi anekdotal terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) , b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students), b) Format Bayangan (Shadowing Form), c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Strudents), d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive profile Chart), Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons), e) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory), f) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection), g) sosiogram, dsb.

Variabel dan Hipotesis

Beberapa  pakar  mengatakan  bahwa  dalam  penelitian  tindakan  kelas  hanya dikenal  adanya  variabel  tunggal,  yaitu  variabel  tindakan.  Namun  beberapa pakar lain menyebutkan bahwa terdapat dua variabel, yaitu variabel tindakan dan   variabel   masalah,   karena   tindakan   yang   dilakukan   adalah   untuk memecahkan  masalah. Dalam  judul  penelitian  ”Penerapan  Metode Penemuan Proyek untuk  Meningkatkan  Aktifitas  Siswa  dalam  Pembelajaran Matematika  pada  Kelas XI SMAN 1 Surabaya Tahun  Ajaran  2008/2009”,  maka  variabel  tindakannya adalah ”Penerapa Metode Proyek”, sedangkan variabel masalahnya adalah  ”Aktifitas  Siswa”.
Beberapa  pakar  juga  menyebutkan  bahwa  dalam penelitian tindakan kelas tidak diperlukan adanya hipotesis karena tidak ada yang  harus  dibuktikan,  tetapi  karena  penelitian  tindakan  pada  hakekatnya mirip penelitian eksperimen tanpa kelompok kontrol, maka bisa juga dirumuskan Hipotesis Tindakan.  Sesuai  contoh  judul  di  atas  maka  bunyi Hipotesis Tindakan adalah : ”Penerapan metode proyek dapat meningkatkan aktifitas siswa pada pembelajaran matematika kelas XI SMAN 1 Surabaya Tahun Ajaran 2008/2009”.

Teknik Pengumpulan Data

Di  dalam  kegiatan  penelitian,  cara  memperoleh  data  ini  dikenal  sebagai metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang lazim dilakukan dalam   penelitian tindakan   kelas   adalah   metode   observasi, wawancara, dokumentasi, kuesioner, dan tes, yang kesemuanya merupakan sebagian dari metode pengumpulan data. Seringkali orang mengartikan observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan mengunakan  mata. Di  dalam  pengertian  psikologik,  observasi  atau  yang disebut  pula  dengan  pengamatan,  meliputi  kegiatan  pemusatan  perhatian terhadap  sesuatu  obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Apa yang  dikatakan  ini  sebenarnya adalah  pengamatan  langsung.  Di  dalam  artian  penelitian,  observasi  dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara. Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian untuk menyebut jenis observasi yaitu :
1.   Observasi  non  sistematis dilakukan  oleh  pengamat  dengan  tidak menggunakan pedoman/instrumen pengamatan.
2.   Observasi sistematis, dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman/instrument  pengamatan.

Wawancara   atau   Interview   adalah   sebuah   dialog   yang   dilakukan   oleh pewawancara  (interviewer)  untuk  memperoleh  informasi  dari  terwawancara (respondent).   Interview   digunakan   oleh   peneliti   untuk menilai   keadaan seseorang,  misalnya  untuk  mencari  data  tentang  variabel  latar  belakang murid,  orang  tua,  pendidikan,  perhatian,  sikap  terhadap  sesuatu. 

Metode dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Jadi dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti mengumpulkan dan mencermati  benda-benda  tertulis  seperti  buku-buku,  majalah,  dokumen, peraturan-peraturan notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.

Kuesioner   adalah   sejumlah   pertanyaan   tertulis   yang   digunakan   untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner dipakai untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen  yang  dipakai  adalah  angket  atau  kuesioner.  Macam  kuesioner dapat dibeda-bedakan atas beberapa tergantung pada sudut pandangan :
1.  Di pandang dari cara menjawab maka ada :
a.       Kuesioener  terbuka,  yang  memberi  kesempatan  kepada  responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.
b.       Kuesioner   tertutup,   yang   sudah   disediakan   jawabannya   sehingga responden tinggal memilih
2.  Di pandang dari jawaban yang diberikan pada :
a.       Kuesioenr langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya.
b.       Kuesioner  tidak  langsung  yaitu  jika  responden  menjawab  tentang orang lain.
3.  Di pandang dari bentuknya maka ada :
a.  Kuesioner pilihan ganda, yang   dimaksud  adalah   sama dengan kuesioner tertutup.
b. Kuesioner isian, yang dimaksud adalah kuesioner tercheck list, sebuah daftar, dimana responden tinggal membubuhkan tanda cehck (v) pada kolom yang sesuai.

Bentuk instrumen pengumpul data kemampuan yang lazim adalah bentuk tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk  mengukur  keterampilan,  pengetahuan,  intelegensi,  kemampuan  atau bakat  yang  dimiliki  oleh  individu  atau  kelompok.  Tes  dapat  berbentuk  tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik. Tes tertulis dapat dikelompokkan menjadi tes obyektif dan essay. Tes obyektif ada beberapa macam yaitu pilihan ganda, benar-salah, jawaban singkat, sebab akibat dan lainnya.

Indikator-Indikator Keberhasilan dan Proses

Untuk  mengetahui  apakah  sebuah  peneltian  tindakan  berhasil  mencapai tujuannya    perlu dituliskan Indikator Keberhasilan. Dengan indikator keberhasilan  maka  seorang  peneliti  dapat  mengukur  apakah  penerapan tindakannya sudah tepat atau belum. Selain indikator keberhasilan maka juga perlu dibuat Indikator Proses. Indikator proses harus berisi langkah-langkah pokok  tindakan  untuk  mencapai  keberhasilan  yang  telah  digariskan  dalam indikator keberhasilan.

Kisi-kisi Indikator Keberhasilan


No
Variabel Masalah
Pemecahan Masalah
Indikator Keberhasilan











Kisi-kisi Indikator Proses

No
Variabel Tindakan
Indikator Proses
Urutan kegiatan
Jenis Instrumen Pengumpulan Data












Dengan bantuan tabel kisi-kisi indikator keberhasilan, maka akan  lebih  mudah  diidentifikasi  kapan  atau  sejauh  mana  tindakan  yang diterapkan  sudah  berhasil  memecahkan  masalah  atau  meningkatkan  mutu pembelajaran. Demikian juga  dengan kisi-kisi indikator proses maka dapat diidentifikasi  apakah  urutan  kegiatan  yang  dilakukan  sudah  sesuai  dengan indikator  proses,  dimana  indikator  proses  merupakan  kunci  pokok  tindakan (keypoint),   yang   apabila   proses   tersebut   tidak   dilakukan   maka   dapat dikatakan tindakannya belum benar.

Sasaran

Sesuai  dengan  prinsip bahwa ada  tindakan  dirancang  sebelumnya,  maka objek atau sasaran dalam penelitian  tindakan  kelas harus merupakan  sesuatu objek yang  aktif  dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Beberapa objek atau sasaran yang dimaksudkan, adalah meliputi unsure-unsur :
1.       Unsur  siswa,  dapat  dicermati  objeknya  ketika  siswa  yang  bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/ laboratorium atau bengkel, maupun ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah di dalam hati, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bhakti di luar sekolah.
2.       Unsur guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata., atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
3.       Unsur  materi  pelajaran,  dapat  dicermati  urutan  matri  tersebut  ketika disajikan  kepada  siswa, meliputi  pengorganisasiannya,  cara  penyajiannya, atau pengaturannya.
4.       Unsur  peralatan  atau  sarana  pendidikan,  meliputi  peralatan,  baik  yang dimiliki   oleh   siswa   secara   perorangan,   peralatan   yang   disediakan   oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas.
5.       Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan  yang  harus  di  capai  melalui  pembelajaran,  baik  susunan  maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain.
6.       Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa dirumahnya. Informasi tentang lingkungan ini dikaji bukan untuk dilakukan camput tangan, tetapi digunakan sebagai pertimbangan dan bahan untuk pembahasan.
7.       Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas  merupakan gerak kegiatan sehingga mudah  diatur  dan  direkayasa  dalam  bentuk  tindakan.  Yang  digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara mengelompokkan siswa ketika guru   memberikan   tugas,   pengaturan   urutan   jadwal,   pengaturan,   tempat duduk  siswa,  penempatan  papan  tulis,  penataan  peralatan  milik  siswa  dan sebagainya.






Persiapan dan Pelaksanaan

Sebelum   melakukan   penelitian   tindakan   kelas,   perjelas   lebih   dulu   latar belakang  masalah,  rumusan  masalah  dan  tujuan  penelitian.  Yang  perlu dilakukan adalah adanya kesinkronan antara masalah dan tujuan penelitian. Karena tujuan penelitian adalah memecahkan masalah maka apabila rumusan  masalah  berbunyi : ”Apakah  penerapan  metode  proyek mampu   meningkatkan   aktifitas   siswa   pada pembelajaran  matematika kelas  XI  SMAN 1 Surabaya Tahun  Ajaran  2008/2009?”, maka tujuan penelitian yang sesuai adalah :”Untuk mengetahui keberhasilan penerapan metode proyek dalam meningkatkan   aktifitas   siswa   pada   pembelajaran   matematika   kelas   XI   SMAN 1 Surabaya Tahun  Ajaran  2008/2009”.  Setelah  jelas  masalah  dan  tujuannya maka ditentukan Indikator Keberhasilan penerapan Metode Pemberian Tugas Proyek, yang selanjutnya juga dibuat Indikator Proses dan Urutan Kegiatan sesuai  tabel  kisi-kisi  di  atas.  Urutan  kegiatan  itulah  yang  dituangkan  dalam bentuk  Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran.  Berdasarkan  urutan  kegiatan tersebut  dapat  ditentukan  instrumen  yang  diperlukan  yakni  berupa  lembar pengamatan  (untuk  mengamati  tingkah  laku  siswa,  guru,  dan  penggunaan sarana  pembelajaran).  Apabila  dirasakan  perlu  mengorek  keterangan  lebih jauh  maka  dapat  disiapkan  pedoman  wawancara  atau  bahkan  disiapkan angket  bagi  siswa  sekolah  menengah  (bagi  siswa  SD  tentunya  tidak  cocok bila  menggunakan  angket).  Setelah  instrumen  penelitian  disiapkan  maka disiapkan   segala   keperluan   yang   akan   digunakan   dalam   pembelajaran, misalnya  lembar  materi,  lembar  tes,  media  dan  sebagainya.  Apabila sudah siap maka dimulailah penerapan tindakan dalam kelas yang diajar oleh guru. Penerapan tindakan mungkin saja dilakukan dalam beberapa kali tatap muka.  Setiap  kali  tatap  muka  maka  sekaligus  dilakukan  pengamatan  oleh rekan  mitra  kerja  atau  oleh  guru  sendiri.  Selesai  satu  tindakan,  selanjutnya guru melakukan refleksi pelaksanaan pembelajaran atas dasar pengamatan yang sudah dilakukan. Dalam hal ini guru mengkaji isi lembar observasi, hasil tes, catatan lapangan, atau hasil angket bila ada. Yang perlu diingat adalah, sejauh  mana  penerapan  tindakan  tersebut  telah  mencapai  keberhasilan sebagaimana  ditunjukkan  dalam  Indikator  Keberhasilan  dan  sejauh  mana prosesnya  telah  sesuai  dengan  Indikator  Proses  yang  direncanakan.  Dari hasil refleksi yang berupa evaluasi pelaksanaan pembelajaran ini maka guru merencanakan  tindakan  lanjutan  yang  berupa  perbaikan  atas  kekurangan yang  terjadi  dalam  pelaksanaan  pembelajaran  sesuai  dengan  pemberian tindakan  yang  telah  direncanakan.  Demikian  seterusnya  proses  berjalan siklus  demi  siklus  sampai  dirasakan  bahwa  tindakan  yang  diterapkan  telah berhasil meningkatkan mutu pembelajaran.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dalam  sebuah  laporan  penelitian,  maka  bagian  yang  memaparkan  tentang hasil   penelitian   merupakan   inti   dari   laporan   tersebut.   Untuk   itu   dalam penelitian  tindakan  kelas  bagian  tersebut  harus  menjadi  perhatian  utama karena sederet apapun latar belakang masalah, berbaris-baris landasan teori dan uraian metodologi penelitian, tidak akan ada artinya tanpa paparan hasil penelitian yang kemudian dibahas atau dianalisis untuk selanjutnya disimpulan,  Dalam  paparan  hasil  penelitian,  pertama  kali  harus  diuraikan tentang latar penelitian yang meiputi di mana dan kapan penelitian dilakukan, sehingga pembaca dibawa ke suasana di  mana penelitian dilakukan. Kalau perlu bagian ini dilengkapi dengan foto sekolah dan kelas di mana penelitian dilakukan. Kemudian   laporkan   langkah-langkah   demi   langkah   yang dilakukan tiap siklus mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, bagaimana  pengamatan  dilakukan  dan  hasil  refleksi  yang  telah  dilakukan. Urutan  kegiatan  sebagaimana  telah  dituliskan  dalam  tabel  kisi-kisi  indikator proses  harus  diuraikan  sehingga  jelas  apa  tindakannya  dan  bagaimana tindakan  itu  dilakukan.  Dengan  berdasarkan  refleksi  siklus  pertama,  maka harus jelas pula upaya apa yang dilakukan untuk memperbaiki tindakan yang akan  dilaksanakan pada  siklus  ke  dua  dan  seterusnya.  Jadi  harus  jelas perbedaan urutan kegiatan pada siklus pertama dan kedua sebagai wujud  ”perbaikan  tindakan  pertama”,  kalau  perlu  uraikan  keunggulan  dari tindakan  yang  dilakukan  pada  siklus  kedua  dibandingkan  dengan  tindakan pada siklus pertama.


Laporan

Selanjutnya apabila guru pelaksana penelitian tindakan kelas sudah merasa puas dengan siklus-siklus itu, tentu saja langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun  laporan  kegiatannya.  Proses  penyusunan  laporan  ini  tidak  akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah ia lakukan.
Membuat  karya  tulis  ilmiah  laporan  penelitian  sebetulnya  akan  jauh  lebih mudah  dibandingkan  dengan  menulis  artikel,  karena  lahan  tulisan  akan sudah  dipenuhi  dengan  penjelasan  tentang  alasan,  tujuan,  manfaat  dan  isi penelitian,  kemudian  cerita  tentang  tindakan  dengan  siklus-siklusnya.  Pada akhir  tulisan  tinggal  disampaikan  hasil  penelitian,  yaitu  keberhasilan  yang diperoleh  dan  hambatan  atau  kesulitan  dalam  pelaksanaan,  ditutup  dengan rekomendasi atau saran.
Sistematika laporan penelitian tidak jauh berbeda dengan laporan penelitian yang  lain.  Satu  hal  yang  sangat  dicermati  oleh  penilai  adalah  bagaimana siklus dilaksanakan,  dan   penjelasan   tentang   proses   yang   berlangsung. Kesalahan  umum  yang  terjadi,  guru  hanya  menyebutkan  sangat  sedikit tentang  tindakan  yang  dilakukan,  dan  langsung  menunjukkan  data  yang dikumpulkan  melalui  tes.  Hasil  tes  antar  siklus  dibandingkan  dengan  atau tanpa rumus, kemudian disimpulkan. Dalam penelitian tindakan ini guru tidak diharuskan  menonjolkan  analisis  data,  tetapi  seperti  sudah  dikemukakan  di depan,  sangat  menekankan  proses. 

Persyaratan

Beberapa hal di bawah ini antara lain   merupakan   persyaratan   untuk diterimanya  laporan  penelitian  tindakan  yang  dilakukan  oleh  guru  dalam kaitannya  dengan  penilaian  prestasi  kerja  (angka  kredit)  guru  dalam  unsur Kegiatan Pengembangan Profesi.
1.       Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadidi dalam pembelajaran, dan berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
2.       Penelitian  tindakan  kelas  oleh  guru  menuntut  dilakukannya  pencermatan secara  terus-menerus,  objektif,  dan  sistematis,  artinya  dicatat  atau  direkam dengan  baik  sehingga  diketahui  dengan  pasti  tingkat  keberhasilan  yang diperoleh   peneliti   serta   penyimpangan   yang   terjadi;   hasil   pencermatan tersebut  akan  menetukan  tindak  lanjut  yang  harus  diambil  segera  oleh peneliti.
3.       Penelitian tindakan harus dilakukan sekurang- kurangnya dalam dua siklus tindakan yang   berurutan;   informasi   dari   siklus   yang   terdahulu   sangat menentukan  bentuk  siklus  berikutnya.  Oleh  karena  itu  siklus  yang  kedua, ketiga dan seterusnya tidak dapat dirancang sebelum siklus pertama terjadi. Hasil   refleksi   harus   tampak   digunakan   sebagai   bahan   masukan   untuk perencanaan siklus berikutnya.
4.       Penelitian tindakan kelas terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. Tindakan yang  dilakukan  tidak  boleh  merugikan  siswa,  baik  yang  dikenai  atau  siswa lain.  Makna  dari kalimat  ini  adalah  bahwa  tindakan  yang  dilakukan  guru tidak  hanya  memilih  anak-anak  tertentu,  tetapi  harus  semua  siswa  dalam kelas.
5.       Penelitian  tindakan  kelas  disadari  betul  oleh  pelakunya,  sehingga  yang bersangkutan   dapat   mengemukakan kembali   apa   yang   dilakukan,   baik mengenai  tindakan,  suasana  ketika  terjadi,  reaksi siswa, urutan  peristiwa, hal-hal  yang  dirasakan  sebagai  kelebihan  dan  kekurangan  dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
  

Bagaimana Memulai PTK ?
Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh adalah: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut.
Penetapan fokus masalah penelitian - Merasakan Adanya Masalah
Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai. Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: apakah kualitas siswa sudah cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? dst. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah dalam pembelajaran.
Identifikasi Masalah
Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah yang sangat merisaukan. Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.
Analisis Masalah
Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis masalah untuk menentukan urgensinya. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi (obat) yang akan diambil.
Merumuskan Masalah
Selanjutnya, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat.
Perencanaan Tindakan - Formulasi Hipotesis Tindakan
Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang diambil dapat dirumuskan ke dalam hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau hasil.
Persiapan Tindakan
Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain, (1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan, (2) Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan, (3) Mepersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran, (4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji keterlaksanaannya di lapangan.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi
Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.
Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan tindakan.
Analisis Data dan Refleksi
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis, (1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, (2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya, (3) Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna.
Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan.
Perencanaan Tindak Lanjut
Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Satu siklus kegiatan merupakan kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan, misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.





CONTOH FORMAT
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

A.     JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi

B.     BIDANG ILMU
Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti.
C.     PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan kemukakan:
1.       Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:  (a) Uraian tentang kedudukan mata pelajaran/kuliah dalam kurikulum (semester, mata pelajaran/kuliah yang ditunjang dan mata pelajaran/kuliah penunjang);  (b) Gambaran umum isi mata pelajaran/kuliah tersebut termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, SAP, GBPP dari mata pelajaran/kuliah yang bersangkutan); (c) Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.
2.       Masalah yang dihadapi ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa/mahasiswa

D.     PERUMUSAN MASALAH
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian  tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.
Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan.  Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya,  selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah tersebut. 
E.      CARA PEMECAHAN MASALAH
Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas (yang meliputi: perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik.
F.      TINJAUAN PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan  tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.

G.     TUJUAN PENELITIAN
Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.

H.     KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi mahasiswa, dosen, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.

I.        METODE PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.

J.       JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart.
K.     PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan.

Lampiran-lampiran
1.       Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian.
2.       Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti (Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan telah dihasilkan sampai saat ini )



Sistematika  Laporan  Penelitian  Tindakan Kelas

Bagian Awal

Halaman judul
Halaman Pengesahan
Minimal  yang  harus  mengesahkan  karya  tulis  ilmiah  hasil  penelitian  ini adalah  kepala  sekolah  dan  kepala  bagian  perpustakaan  sekolah  yang bersangkutan.
Abstrak
Pada bagian ini dituliskan dengan ringkas dan jelas hal-hal pokok tentang (a)  permasalahan  khususnya  rumusan  masalah,  (b)  tujuan  penelitian,  (c) prosedur pelaksanaan PTk dan (d) hasil penelitian .
Kata Pengantar
Daftar Isi dan lampiran-lampiran

Bagian Isi

BAB I :       PENDAHULUAN
A.  Latar  Belakang  (diskripsi  masalah,  data  awal  yang  mendukung  adanya masalah  dan  akar  timbulnya  masalah  dengan  menunjukkan  pada  lokasi penelitian dan waktu serta penjelasan pentingnya masalah itu dipecahkan;
B.  Rumusan Masalah (diharapkan kalimat Tanya);
C.  Tujuan Penelitian; (sesuaikan dengan rumusan masalah)
D.  Manfaat   Penelitian;   (sesuaikan   dengan   apa   yang   direncanakan   pada proposal, namun peneliti dapat mengembangkan)

BAB II :      LANDASAN TEORI

Kemukakan teori dan pustaka yang relevan, dan  memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan PTK. Diperlukan adanya usaha untuk membangun argumentasi   teoritis   yang   menunjukkan   bahwa  tindakan   yang   diberikan dimungkinkan  dapat  meningkatkan  mutu  proses  pembelajaran  di  klas.  Pada akhir bab ini dapat dikemukakan hipotesis tindakan. Uraian pada bab ini harus lebih lengkap dan rinci dibanding dengan uraian yang ada pada bab yang sama di proposal/usulan penelitian.

BAB III :  METODE PENELITIAN

Deskripsikan tiap siklus penelitian yang memuat: rencana, pelaksanaan/tindakan, pemantauan dan evaluasi beserta jenis instrument yang digunakan, dan cara refleksi. (perlu dibedakan pada usulan, isi apa yang akan dilaksanakan, sedang pada laporan berisi apa yang sudah dilaksanakan). Pada tiap  siklus  harus  dikemukakan  tindakan  secara  jelas,  serta  semua jenis instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data. Tindakan yang dilakukan bersifat rasional, feasible serta collaborative.

BAB IV :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Menyajikan  uraian  masing-masing  siklus  dengan  data  lengkap,  menyangkut berbagai aspek yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan. Tunjukkan adanya perbedaan tindakan dengan   kegiatan   pelajaran   yang   biasa   atau   sering dilakukan.  Pada  refleksi  diakhir  setiap  siklus  berisi  penjelasan  tentang  aspek keberhasilan grafik, dan kelemahan yang terjadi. Kemukakan ada perubahan/ kemajuan/  perbaikan  yang  terjadi  pada  diri  siswa,  lingkungan  kelas,  guru sendiri,   motivasi/minat   belajar,   dan   hasil   belajar.  Kemukakan   hasil   dari keseluruhan   siklus   ke   dalam   ringkasan   untuk   bahan   dasar   analisis   dan pembahasan.  Bahan/data  tersebut  ditulis  dalam  bentuk  tabel  atau  bagan sehingga akan memperjelas adanya perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistematik dan jelas.

BAB V :  KESIMPULAN, DAN SARAN

Sajikan simpulan hasil  penelitian (potret kemajuan) sesuai dengan tujuan/masalah penelitian yang telah disampaikan sebelumnya. Berikan saran tindak lanjut berdasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyengkut segi positif maupun negatifnya.

DAFTAR PUSTAKA

Memuat  semua  sumber  pustaka  yang  digunakan  dalam  penelitian  dengan menggunakan system yang telah dibakukan secara konsisten.

Lampiran-lampiran:

Berisi  rancangan  materi/bahan  ajar,  semua  instrument  penelitian,  sampel jawaban  siswa,  dokumen/foto  kegiatan,  ijin  penelitian,  serta  bukti  lain  yang dipandang perlu.



DAFTAR PUSTAKA



Direktorat SLTP - Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah-Depdiknas. 2001. Pedoman Pelaksanaan Classroom Action Research (CAR)

Ernest T., 1996, Action Reserach : A Handbook for Practitioners, London, Sage Pubications

Hopkins,   David,   A.1992.,   A   Teacher’s   Guide   to   Classroom   Research,   Philadelphia, Open University Press

Natawijaya, Rochman, 1997, Konsep Dasar   Penelitian   Tindakan   Kelas, Bandung : IKIP Bandung.

Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah (Secondary School Teacher Development Project) IBD Loan No. 3979-IND. Dirjen Dikti-Depdiknas. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research); Bahan pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah.

Suharsimi Arikunto, Suharjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara

Sumarno,1997,  Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta : Dirjen Dikti

Wibawa, Basuki, 2004, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Ditjen Dikdasmen

Winter,  Richard,  1996,  New  Directions  in  Action  Research,  Washington  DC: The Palmer Press

Wiriadmadja, Rochiati.2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas; Untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar